Daftar Blog Saya

Jumat, 27 Mei 2011

Tradisi Kliwonan di Kabupaten Batang


Awal  Mula  Munculnya Tradisi Kliwonan
Tradisi didefinisikan sebagai cara mewariskan pemikiran, kebiasaan, kepercayaan, kesenian dari generasi ke generasi, dari leluhur ke anak cucu secara lisan. Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia yang mempunyai obyek material, kepercayaan, khayalan, kejadian atau lembaga serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Koentjaraningrat. 1990:45). Tradisi Kliwonan telah berjalan secara turun-temurun dari generasi nenek moyang sampai generasi selanjutnya anak cucu. Pada malam Jumat Kliwon di alun-alun Batang, dan tradisi Jumat Kliwon merupakan suatu rangkaian tradisi yang telah menjadi salah satu pola kehidupan masyarakat setempat. Namun tidak dapat diketahui secara pasti kapan tepatnya tradisi tersebut pertama kali dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya.
Tradisi malam Jumat Kliwon atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kliwonan berkaitan dengan cerita rakyat atau legenda dari daerah setempat yaitu Kabupaten Batang. Pada mulanya tradisi ini diadakan dengan maksud untuk mengenang jasa leluhur dan nenek moyang Batang yang dulunya telah membangun daerah Batang. Tradisi Kliwonan yang dulunya digunakan untuk ajang melakukan ritual-ritual sederhana kemudian berkembang seperti sekarang ini.
Kliwonan di daerah Batang mengalami perubahan dari bentuk dan fungsi yang secara sesungguhnya. Pada awalnya Tradisi Kliwonan merupakan sarana atau tempat pengobatan bagi orang sakit. Seiring dengan perkembangan masyarakat yang mencakup multi dimensi, tradisi Kliwonan mengalami perubahan fungsi menjadi sebuah pasar yang sering disebut dengan pasar kliwonan. Tradisi kliwonan ini diselenggarakan di alun-alun Kota Batang setiap 35 hari sekali atau disebut selapan dina menurut perhitungan Jawa tepatnya pada malam Jumat Kliwon.
Menurut cerita Tradisi Kliwonan pada masa itu bermula ketika pada jaman pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram, Batang dahulu masih berupa hutan-hutan besar dan luas yang disebut Alas Roban. Di Alas Roban ini ada sekelompok perampok yang sangat berbahaya dan selalu meresahkan masyarakat setempat, kadang juga mengganggu orang-orang yang lewat di daerah tersebut.
Sultan Agung dalam upaya memperluas wilayah Kerajaan Mataram, memerintahkan seorang punggawa kerajaannya yang sakti bernama Ki Ageng Cempaluk dengan menebang hutan Alas Roban dan sekaligus memusnahkan para perampok di hutan tersebut. Alas Roban ini nantinya akan dijadikan lahan persawahan yang selain untuk pertanian bagi masyarakat, juga untuk mencukupi kebutuhan bahan makanan bagi prajurit Mataram yang sedang berperang melawan Belanda (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan 1984).
Punggawa kerajaan yang telah mendapatkan perintah dari Sultan Agung tersebut kemudian memerintahkan anak buah sekaligus muridnya yang bernama Joko Bahu atau Bahurekso. Pelaksanaan tugas dimulai dengan penebangan hutan, dan pembuatan bendungan di sungai Lojahan. Bendungan di sungai Lojahan tersebut digunakan untuk mengairi persawahan di daerah tersebut. Tetapi dalam melaksanakan tugas tersebut Bahurekso mendapat perlawanan dari perampok. Pertempuran sama-sama kuatnya di kedua belah pihak dan tidak ada yang terkalahkan. Tapi dengan perlawanan yang kuat, akhirnya Bahurekso berhasil mengalahkan para perampok tersebut (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan, 1984).
Setelah perlawanan Bahurekso selesai kemudian mulai melanjutkan penebangan hutan dan dilakukan dari arah timur yaitu mulai daerah Subah ke Barat hingga ke Sungai Lojahan. Di Sungai tersebut kemudian dibangun sebuah bendungan yang digunakan untuk menampung dan mengalirkan air sungai tersebut ke daerah yang baru saja ditebang pohonnya, sehingga lahan tersebut menjadi lahan yang siap tanam. Pada waktu Bahurekso membangun bendungan di Sungai Lojahan, pernah bersemedi di tepi Sungai ini pada hari Jumat Kliwon, dengan maksud agar proses pembuatan bendungan di tepi sungai tersebut berhasil.
Peristiwa itulah yang kemudian dikenal dengan nama sungai Kramat, karena sungai tersebut dipercaya mempunyai hal yang berbau keramat. Menurut buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang yang tidak diterbitkan, bahwa kata Batang berawal dari kata Ngembat Watang yang ceritanya berawal dari ketika Bahurekso sedang melaksanakan pembangunan bendungan di sungai Lojahan terdapat kayu besar atau watang yang melintang di sungai tersebut sehingga pembuatan bendungan mengalami sedikit kesulitan. Kemudian Bahurekso melakukan semedi atau untuk mendapatkan kekuatan gaib. Setelah bersemedi segeralah Bahurekso menuju ke pohon watang yang melintang tersebut dan mengangkat serta mematahkan kayu tersebut atau dikenal dengan istilah ngembat watang. Melalui kejadian tersebut maka daerah di tempat Bahurekso melakukan pembangunan tersebut kemudian dikenal dengan nama Batang hingga sampai sekarang ini menjadi Kabupaten Batang (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan, 1984).
Batang kemudian menjadi suatu daerah walaupun tidak besar, tidak ada sumber yang menyebutkan bagaimana mengenai Bahurekso. Namun beliau dianggap sebagai leluhur masyarakat Batang. Pada suatu ketika ada seorang keturunan Sunan Sendang (Sayid Nur atau Raden Nur Rachmat) dari desa Sendang Dhuwur di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur yang bernama Pangeran Alit atau dikenal dengan sebutan Raden Joko Cilik mendapatkan wangsit dalam mimpinya agar ia pergi ke barat Alas Roban untuk melaksanakan dakwah.
Kemudian beliau berangkat ke Batang. Batang termasuk wilayah dari Karajaan Mataram maka sebelum berangkat beliau minta ijin kepada wakil Raja Mataram di Ngembat Watang adalah batang pohon yang melintang di sungai Lojahan Jepara untuk membangun daerah Batang (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan, 1984).
Pada saat itu Batang di bawah kekuasaan Bupati yang bernama Pangeran Mandurejo. Kemudian Pangeran Joko Cilik dijadikan pejabat Bupati di Batang untuk membantu pemerintahan Kabupaten Batang. Pangeran Mandurorejo tidak langsung memerintah Batang, karena dalam kesehariannya beliau mendampingi Sultan Agung di Kerajaan Mataram. Pengeran Madurorejo selain menjadi Bupati pertama di Batang, beliau juga panglima perang Sultan Agung saat menyerang VOC di Betawi.
Pelaksanaan pemerintahan Kabupaten Batang dipercayakan kepada Raden Joko Cilik hingga masa pemerintahan Bupati ke II yaitu Kanjeng Ratu Batang (Sekar Ayung atau Putri Prahila) yang merupakan putri dari Pangeran Madurorejo. Saat menjadi pejabat Bupati tersebut, beliau juga menjadi pendahulu Batang dan kerap menjadi imam Masjid Agung Batang, di mana beliau juga ikut andil dalam pembuatan masjid tersebut (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan, 1984)
Tradisi Kliwonan yang sekarang ini pada mulanya diadakan dengan pertimbangan untuk mengenang para leluhur masyarakat Batang yaitu Bahurekso yang dahulu pernah bersemedi di sungai Lojahan atau Kramat. Terdapat kebiasaan di makan Sunan Sendang atau Sayid Nur pada setiap malam Jumat Kliwon banyak orang-orang datang ke sana untuk berziarah, kemudian ditiru oleh masyarakat Batang. Masyarakat Batang khususnya para orang tua sering bersemedi di sungai Kramat (Buku Kumpulan Cerita di Kabupaten Batang, tidak diterbitkan, 1984).
Mengenai tradisi yang dilaksanakan di alun-alun Batang pada hari Kamis Wage yaitu berupa upacara ngalap berkah (mencari Berkah) dan juga dalam rangka penyembuhan dan kesehatan untuk anak-anak kecil dengan melakukan beberapa ritual yaitu ritual gulingan, mandi di Masjid Agung Batang dan membuang pakaian bekas yang dipakainya sewaktu ritual gulingan dan membagi-bagikan uang logam serta makanan khas pasar (jajan pasar). Air yang digunakan untuk membasuh muka atau untuk mandi dalam ritual tersebut terletak di tempat wudlu Masjid Agung sebelah selatan dan konon air tersebut berasal dari mata air yang terdapat di dekat makam Sunan Sendang yang dibawa Raden Joko Cilik ke Batang. Air itu dipercaya dapat menyembuhkan penyakit atau menghindari dari segala penyakit.

Nilai yang Terkandung dalam Tradisi Kliwonan
Setiap benda alam sekitar yang disentuh dan dibudidayakan manusia mengandung suatu makna dan nilai. Nilai atau makna yang diperoleh manusia bermacam-macam, misalnya nilai sosial, ekonomis, keindahan, keagamaan dan sebagainya. Setiap hasil karya manusia, menyimpan bentuk dan isi kemanusiaan. Oleh karena itu setiap benda budaya menunjukkan maksud, nilai serta gagasan-gagasan penciptanya.
Salah satu fungsi dari upacara tradisional adalah sebagai penguat norma-norma serta nilai-nilai budaya yang telah berlaku. Norma-norma dan nilai-nilai budaya tersebut secara simbolis ditampilkan melalui peragaan dalam bentuk upacara dilakukan oleh seluruh warga masyarakat pendukungnya. Upacara tradisi merupakan salah satu ungkapan budaya yang banyak mengandung nilai-nilai yang dapat diteladani dan diinternalisasikan oleh generasi penerus. Kliwonan ini dikatakan suatu tradisi karena dilaksanakan secara turuntemurun dan dipercaya oleh masyarakat mempunyai banyak makna serta nilai-nilai di dalamnya. Seperti halnya dalam tradisi Kliwonan yang sekarang ini kemudian memunculkan empat unsur nilai budaya, sosial,  agama dan ekonomi yang merupakan perangkat struktur dalam kehidupan masyarakat Batang terkait dengan tradisi Kliwonan ini baik secara individu maupun secara sosial.
Nilai-nilai budaya dalam tradisi Kliwonan telah menyatu dengan jiwa masyarakat pendukungnya tanpa mereka sadari, seperti solidaritas diantara masyarakat pendukung. Dalam tradisi ini tidak terdapat norma-norma mengikat, sistem hukum, dan aturan-aturan khusus yang dilakukan. Norma aturan tersebut adalah suatu kesepakatan bersama yang tidak tertulis, secara sadar dan tidak sadar mereka melaksanakan tradisi Kliwonan sesuai dengan cara dan kebiasaan mereka tersebut, seperti pelaksaan ritual mandi, berdagang dan berjalan-jalan.
Nilai budaya bersifat umum, abstrak dan luas, namun nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan selalu menjadi bagian dari jiwa dan emosional warga yang bersangkutan, karena sejak kecil dia telah meresapi nilai-nilai budaya dalam masyarakat tempat ia tinggal. Oleh karena itu konsep-konsep mengenai nilai budaya dalam kebudayaan tersebut telah berakar memenuhi ruang jiwanya.
Nilai budaya mencakup tiga bagian, yaitu moralitas, estetika dan etos. Namun dalam tradisi Kliwonan yang terkandung di dalamnya adalah nilai moralitas dan etos. Nilai mentalitas suatu penilaian terhadap tindakan yang dianggap baik. Dan setiap budaya pasti mempunyai kategori dan standar untuk mengevaluasi tingkahlaku atau tindakan tindakan berpola manusia. Dalam tradisi Kliwonan nilai moralitas mencakup pada solidaritas diantara masyarakat pendukung, tindakan berpola yang terdapat dalam tradisi Kliwonan yang dianggap pantas, hubungan dengan anggota-anggota baru dan nilai ketertiban (Koentjaraningrat, 2002:35).
Solidaritas dan gotong-royong merupakan ciri-ciri utama hidup kemsyarakatan orang Jawa yang  kenal dengan semangat tolong-menolong dan sebagainya. Jadi jika ada orang yang suka dengan bersamaan dan tinggi rasa solidaritasnya maka ia akan dianggap baik dan kadang bisa dijadikan panutan. Memang seiring dengan arus globalisasi, semangat solidaritas sudah sedikit mengalami kemunduran, begitu juga dengan sebagian kecil orang Jawa. Mereka yang khususnya hidup di kota-kota besar karena sudah sibuk dengan urusannya masing-masing cenderung tidak perduli dengan keberadaan orang lain. Namun lain halnya dengan penduduk yang berdomisili di daerah pedesaan atau kota-kota kecil yang masih memiliki rasa solidaritas dan gotong-royong diantara sesamanya yang membutuhkan. Dalam tradisi Kliwonan nilai solidaritas tidak begitu besar diantara masyarakatpendukungnya. Hal tersebut karena tradisi Kliwonan adalah suatu  peristiwa yang hanya terjadi 35 hari sekali, jadi masyarakat pendukungnya hanya sekali saja pada hari tersebut. Kemudian mereka akan pergi meninggalkan tradisi Kliwonan menuju ke tempat tujuan masing-masing. Disisi lain dengan hanya pertemuan yang sekali itu akan terjadi berkali-kali pertemuan yang dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mereka, khususnya yaitu para pedagang. Mereka berasal dari berbagai daerah, suku bangsa dan budaya. Dengan adanya pertemuan para pedagang di pasar Kliwonan mereka dapat saling kenal dan kemudian saling membutuhkan. Para pedagang tersebut pada umumnya tidak merasa saling menyaingi satu dengan yang lainnya atau iri dengan hasil keuntungan orang lain ketika berdagang di Kliwonan. Mereka beranggapan bahwarejeki masing-masing orang sudah diatur oleh Tuhan, dan bahwa tradisi Kliwonan pasti membawa berkah bagi orang yang berjualan di Kliwonan. Memang tidak terdapat komunitas khusus atau paguyuban antar pedagang di tradisi Kliwonan.
Mereka biasanya hanya datang dan pergi begitu saja ketika tradisi Kliwonan sudah selesai. Namun hal tersebut tidak menghalang-halangi bagi masyarakat pengunjung untuk tidak saling mengenal dan mengakrabi. Tindakan berpola dalam tradisi Kliwonan meliputi pelaksaan ritual mandi dan membuang pakaian, berdagang untuk memberi keuntungan dan juga untuk mendapatkan berkah, berjalan-jalan memutari alun-alun, bersodaqoh di kotak amal Masjid Agung, menonton hiburan di jalan Veteran, dan perilaku lainnya yang biasa dilakukan orang-orang layaknya di pasar dan di tengah keramaian. Tindakan berpola dikatakan sebagai nilai moralitas karena bagi masyarakat pendukung Kliwonan telah mempunyai tindakan berpola tersendiri yang menjadi simbol yang dianggap pantas bagi masyarakat pendukungnya. Memang tidak ada sanksi tersendiri bagi seseorang jika tidak melakukan berpola sesuai dengan adat dan kebiasaan di Kliwonan, namun akan menjadi hal yang aneh dianggap tidak “afdhol” jika tidak melakukan hal-hal tersebut di atas.
Kebudayaan merupakan seperangkat aturan dan norma yang dimiliki oleh suatu masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya, melahirkan perilaku dan tindakan berpola yang dianggap layak dan dapat diterima oleh para anggotanya. Kliwonan menjadi suatu sistem budaya yang memantapkan tindakan-tindakan dalam tradisi Kliwonan sehingga menjadi suatu tindakan berpola. Tindakan tersebut berkaitan dengan yang lain, seperti keramaian pasar malam Kliwonan yang mengundang antusias pengunjung untuk meramaikannya atau untuk sekedar melihat-lihat atau memebeli barang yang dibutuhkan. Sistem kepribadian yang dapat menciptakan pola perilaku seorang anggota masyarakat pendukung Kliwonan yang juga dapat dipengaruhi oleh nilai dan norma dalam tradisi tersebut.

Cara alamiah sistem organik manusia menentukan kepribadian individu.
Tradisi Kliwonan merupakan tradisi yang berupa pasar malam atau sebuah pasar biasa yang dilakukan pada sore hari sampai malam hari. Layaknya sebuah pasar tentu saja di Kliwonan sangat ramai oleh pedagang dengan barang dagangannya serta pengunjung yang berjalan-jalan sehingga menambah keramaian tradisi Kliwonan. Keramaian di Kliwonan begitu luar biasa. Terjadi antrian yang panjang di jalanan berpaving di laun-alun yang dikanan kirinya terdapat banyak pedagang dengan barang dagangannya. Apalagi jika tradisi Kliwonan terjadi pada tepat dengan tanggal muda di mana kebanyakan masyarakat kita mendapat upah kerja pada tanggal tersebut. Seluruh ruas jalan di alun-alun selalu padat orang-orang. Dan dalam keramaian tersebut situasi dan kondisi terbilang cukup aman dan terkendali dengan kata lain pelaksanaam pasar malam Kliwonan berjalan dengan lancar dan tertib. Hal itu menunjukkan adanya nilai ketertiban yang tanpa sadar diciptakan oleh segenap masyarakat pendukung tradisi Kliwonan. Ketertiban yang ada di Kliwonan diantaranya tidak terdapat kerusuhan atau perkelahian baik di alun-alun atau pasar malam maupun di tempat panggung pertunjukan kesenian dan pemutaran film. Walaupun berdesak-desakan di dalam pasar, namun masyarakat pendukung tetap saling menghormati kepentingan masing-masing dan menjaga ketertiban dalam pelaksanaan tradisi Kliwonan. Ketentuan secara khusus atau pengenaan denda dari pemerintah  setempat mengenai ketertiban di Kliwonan. Jadi ketertiban tersebut tercipta dengan sendirinya. Pemerintah kota hanya mengurusi masalah kontrak kepemilikan stand untuk berjualan. Hal itu adalah salah satu antisipasi pemerintah setempat untuk menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksaan tradisi Kliwonan.
Nilai budaya yang terkandung dalam Kliwonan adalah etos, yang merupakan sebuah usaha untuk mengurangi kerumitan pada sebuah sistem nilai, terhadap beberapa pola dasar yang mempengaruhi semua bagian dari sistemnya dan menghitung kesesuaian, contohnya dengan ekonomi, moral dan estetik.
Sebagian besar masyarakat pendukung Kliwonan adalah orang Jawa. Orang Jawa terkenal dengan falsafah hidupnya yang cenderung bersikap nrimo, sabar dan unggah-ungguh, yaitu nrimo sebagai sikap yang mau menerima apa adanya, sabar yaitu sikap yang selalu mau melapangkan hati dan tidak terburuburu dalam segala hal, serta unggah-ungguh yaitu etika dan tata krama. Sistem berpikir yang bernuansa mitos juga terbawa pula untuk hampir keseluruhan orang Jawa, baik mereka yang sudah tergolong maju. Jadi orang Jawa begitu pula masyarakat pendukung Kliwonan sarat dengan pemikiran-pemikiran yang berbau mitos. Sikap-sikap tersebut menjadi etos kerja masyarakat pendukung tradisi Kliwonan adalah pandangan moral masyarakat pendukung Kliwonan (pedagang) terhadap kerja. Para pedagang tidak begitu berambisi dalam melaksanakankegiatan mencari untung di pasar malam. Mereka cenderung bersabar dalam menunggu pembeli dan nrimo jika hasil penjualannya tidak memberikan keuntungan yang banyak, namun mereka juga percaya adanya mitos tentang berdagang di Kliwonan.
Masyarakat pendukung Kliwonan yang mempunyai nilai kepercayaan atau mitos. Mitos berkembang dari jaman dahulu di antara masyarakat pendukung tradisi Kliwonan hingga sekarang. Walaupun masyarakat pendukung modern tidak begitu memperhatikan mitos-mitos tersebut karena yang mereka lakukan di Kliwonan tidak maksud tertentu yang sangat khusus mengenai mitos tersebut.
Mitos-mitos yang sering disebutkan dan berkembang di antara masyarakatpendukung di Kliwonan adalah pelaksanaan ritual jika ingin mendapatkan berkah (ngalap berkah) di antaranya adalah sarana pengobatan atau penyembuhan penyakit dan mencari jodoh. Mitos lainnya adalah jika berdagang di pasar malam Kliwonan pasti akan mendapat untung yang banyak, makan Gemblong dan Klepon akan mendapat panjang umur, adanya sanksi dari alam jika  Kliwonan tidak dilaksanakan atau pindah lokasinya, dan juga ada kepercayaan bahwa di antara pengunjung yang datang di pasar malam kliwonan yang ramai dan sesak tersebut tidak semuanya adalah manusia tetapi juga dipadati oleh makhluk halus.
Seperti yang diungkapkan di muka bahwa pada tradisi Kliwonan pada masa dahulu masyarakat pendukung ikut maramaikan tradisi karena khusus ingin melakukan ritual ngalap berkah. Namun pada masa sekarang ritual tersebut dilakukan oleh sebagian masyarakat pendukung saja, khususnya para ibu-ibu yang ingin mengobati anaknya.
Mengenai mitos berkah berdagang di Kliwonan memang dipercaya oleh pedagang di tradisi Kliwonan. Dari penuturan para pedagang yang sekarang mengakui bahwa mereka berdagang memang karena itu adalah mata pencaharian mereka dan penghasilan sehari-hari mereka berasal dari berdagang tersebut. Jadi mereka tidak begitu terobsesi oleh mitos tersebut. Namun mereka juga mengakui bahwa mitos tersebut kadang ada benarnya, karena itu terkihat dari pengorbanan atau modal mereka yang tidak sedikit untuk berdagang di pasar Kliwonan. Walaupun mereka berasal dari luar daerah Batang, mereka tetap datang untuk berjualan, padahal biaya untuk perjalanan menuju ke Batang saja pasti sudah menghabiskan biaya yang banyak. Ternyata mereka tidak memperdulikan hal tersebut, dan itu menjadi bukti bahwa mereka masih mengharapkan kebenaran dari mitos berkah berdagang di Kliwonan.
Makan-makanan khas Kliwonan yaitu Gemblong dan Klepon, hal tersebut pernah disarankan oleh Kanjeng ratu Bupati (Bupati ke 11) pada jaman dahulu. Makanan Gemblong dan Klepon memiliki makna tersendiri, yaitu Gemblong yang lengket dapat diartikan sebagai kerekatan antar masyarakat pendukung Kliwonan (persaudaraan), kerekatan budaya dan kerekatan jodoh sehubungan mitos ngalap bberkah dalam mencari jodoh di tradisi Kliwonan. Gemblong yang berwarna putih dapat dilambangkan sebagai kesucian. Sedangkan Klepon yang luarnya berwarna hijau dilambangkan sebagai keagamaan, yang artinya tradisi Kliwonan (jaman dahulu) sarat dengan nilai-nilai agama, santan dilambangkan sebagai inti perdalaman agama dan cairan gula di dalam Klepon yang berwarna merah sebagai lambang keberanian. Namun bagi masyarakat pendukung yang sekarang terkadang tidak terpengaruh oleh mitos tersebut karena memang sebagian ada yang tidak tahu dan jika mereka tahu maka hal itu tidak begitu mempengaruhi mereka. Alasan mereka membeli dan makan Gemblong-Klepon hanya karena suka atau memang makanan kegemaran.
Mitos berikutnya yaitu mengenai sanksi alam jika tradisi Kliwonan tidak dilaksanakan. Sebenarnya yang terjadi mungkin bahwa sanksi alam tetapi masyarakat mempercayai hal itu sebagai kemarahan nenek moyang mereka dan juga pohon beringin yang marah karena ini berbau mistis. Tetapi suatu kali pernah pada jaman dahulu dan tidak diketahui pada tahun berapa, bahwa pohon beringin di tengah alun-alun kota Batang meledak atau terdengar suara ledakan. Kemudian masyarakat di sekitar menghampiri sumber suara ledakan tersebut adalah seperti petasan atau mercon, tetapi di tempat tersebut tidak ada bekas kertas-kertas atau sisa-sisa ledakan petasan. Maka dari itu masyarakat mempercayai hal tersebut sebagai kemarahan pohon beringin. Peristiwa tersebut terjadi setelah suatu saat tradisi Kliwonan atau pasar malam tidak dilaksanakan, dan pernah ada rencana dari pemerintah setempat akan memindahkan lokasi penyelenggaraan tradisi Kliwonan di lapangan Dracik Kelurahan Proyonanggan Selatan Kecamatan Batang. Di tempat lapangan Dracik diharapkan dapat menghindari kemacetan, karena termasuk daerah yang sepi. Hal tersebut kemudian memberatkan para pedagang yang berjualan di pasar Kliwonan, karena dianggap terlalu jauh dari jalan raya apalagi para pedagang yang berjualan di Kliwonan, karena dianggap terlalu jauh akhirnya oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa leluhur dan juga pohon beringin tidak setuju jika lokasi penyelenggaraan Kliwonan dipindahkan apalagi ditiadakan. Namun ada atau tidaknya kepercayaan dan mitos tersebut tidak merugikan masyarakat pendukung maupun pemerintah setempat, karena tradisi Kliwonan tetap tertib dan lancar seperti sebagaimana adanya hingga sekarang ini.
Mitos lainnya adalah tentang keberadaan makhluk halus yang ikut meramaikan tradisi Kliwonan. Dalam hal ini juga tidak ada penjelasan secara khusus, karena hal ini menyangkut di luar nalar manusia. Konon makhluk halus tersebut beramai-ramai datang ke Kliwonan dengan menjelma menjadi manusia biasa. Ada pengakuan dari beberapa masyarakat pendukung yang membenarkan keberadaan makhluk halus tersebut. Tetapi mereka (makhluk halus) tidak mengganggu jalannya tradisi Kliwonan, terbukti dengan adanya tradisi tetap berjalan dengan lancar dan tanpa ada kendala.

Makna dari Tradisi Kliwonan bagi Masyarakat Batang dan Sekitarnya
Masyarakat Batang melakukan tradisi Kliwonan dalam rangka untuk mengenang pendahulu mereka yaitu Bahurekso yang telah membabad atau membuka daerah Batang. Salah satu alasan mengapa dilaksanakannya tradisi ini pada hari Jumat Kliwon, karena pada hari tersebut Bahurekso bertapa untuk mendapatkan kekuatan, sehingga dipercaya oleh para keturunannya bahwa pada hari itu merupakan hari yang keramat. Selain untuk mengenang jasa leluhur masyarakat batang, tradisi Kliwonan juga digunakan untuk media ngalap berkah (mencari berkah), di antranya yaitu mencari jodoh, sarana pengobatan, mencari keuntungan dalam berdagang. Jadi yang dimaksud dengan ngalap, berkah dalam tradisi Kliwonan itu meliputi ritual sebagai sarana pengobatan (guling-guling, mandi, membuang pakaian), berdagang untuk mencari berkah, berkah dari makan Gemblong dan Klepon, mencari jodoh dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan jaman tradisi Kliwonan ini pun mulai berkembang dan kemudian mulai berbentuk seperti pasar malam. Kini maksud dantujuan melaksanakan tradisi Kliwonan pun mulai bertambah yaitu ingin mencari rezeki bagi para pedagang di tengah keramaian dan para pengunjung yang sekedar berjalan-jalan untuk mencari kesenangan di tengah keramaian kota atau membeli barang yang ingin dibeli di pasar malam tradisi Kliwonan. Masih ada sebagian masyarakat pendukung tradisi yang melakukan ritual penyembuhan penyakit bagi anak kecil dan beberapa muda-mudi yang sedang mencari jodoh yaitu dengan cara mencari kenalan dengan sesama pengunjung yang masih muda. Jadi dalam tradisi Kliwonan ini masyarakat pendukungKliwonan pada umumnya hanya ingin mencari hiburan pada tradisi tersebut, atau memang sengaja ingin membeli barang yang diinginkan dan kepercayaan para pedagang terhadap berkah berdagang di pasar malam Kliwonan.  Telah dikemukakan diatas bahwa tradisi Kliwonan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara turun-temurun seiring perkembangan daerah Batang. Tidak terdapat sumber dan data secara pasti kapan pertama kali tradisi ini dilaksanakan dan tradisi ini berkembang sesuai dengan perubahan sosial budaya dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat pendukungnya.

Pelaku Tradisi Kliwonan
Masyarakat pendukung tradisi Kliwonan ini sangatlah beragam. Masyarakat pendukung terdiri dari pedagang yaitu penjual barang dagangan dan penjual jasa, pengunjung yaitu pegunjung yang berekreasi serta berbelanja dan pelaku ritual, seniman, pihak pemerintah setempat yang bersangkutan dengan penyelenggaraan Kliwonan. Pedagang yang berada di pasar kliwonan merupakan salah satu subjek dalam penelitian ini. Pada mulanya pedagang di Kliwonan terbilang cukup sedikit.
Dulunya para penjual hanya diwakili oleh penjual makanan seperti Gemblong dan Klepon serta kacang rebus, dan penjual mainan anak-anak, karena banyak anak-anak yang diikutkan oleh  orang tuanya untuk disembuhkan dari penyakit. Kemudian terjadilah pergeseran budaya, dimana para pedagang mulai memadati alun-alun Kota Batang yang antara para pedagang tidak hanya penjual makanan saja tetapi juga terdiri dari pedagang pakaian, tanaman hias, perabot rumah tangga dari plastik, sepatu atau sandal, kaos kaki dan lain-lain. Dengan keadaan tersebut kemudian tradisi Kliwonan dapat dikatakan sebagai pasar malam. Dengan keadaan tersebut kemudian tradisi Kliwonan juga banyak yang berasal dari daerah luar Kabupaten Batang, yaitu misalnya pedagang tanaman hias ada yang berasal dari Tawangmangu, Tegal, Cirebon. Dan pedagang lainnya ada yang datang dari Pekalongan, Semarang, Bandung, Surabaya dan bahkan dari Batam. Para pedagang tersebut biasanya mengetahui adanya tradisi Kliwonan dari sesama teman pedagang. Para pedagang yang berasal dari Batang maupun yang dari luar Batang mempunyai kepercayaan bahwa kalau setelah berjualan di pasar malam kliwonan akan mendapatkan pelanggan atau rejeki yang lebih banyak. Kepercayaan itu masih berlangsung sampai sekarang. Tradisi Kliwonan bagi para pedagang merupakan salah satu ajang besar untuk mencari rejeki. Sedangkan kategori penjual yang kedua adalah penjual jasa yaitu tukang parkir. Jasa pemarkiran ini merupakan jasa dadakan karena bukan mata pencaharian sehari-hari. Orang-orang yang menjadi tukang parkir dadakan di sekitar alun-alun hanya jika ada pasar malam Kliwonan atau acara-acara besar yang dilaksanakan di alun-alun.
Pengunjung tradisi ini kebanyakan berasal dari Kabupaten Batang itu sendiri, dan mempunyai beragam tujuan mendatangi kliwonan, yaitu pengunjung yang ingin berekreasi dan pengunjung yang ingin melakukan ritual. Pengunjung juga banyak yang berasal dari luar Kecamatan Kabupaten Batang, yang kebanyakan adalah para muda-mudi. Namun ada juga pengunjung yang datang karena memang sengaja ingin membeli sesuatu barang di tradisi ini. Pengunjung yang tadinya iseng untuk berjalan-jalan tidak menutup kemungkinan dia tertarik dengan sesuatu barang dan kemudian membelinya.
Pelaku ritual ngalap berkah di tradisi Kliwonan adalah kebanyakan orang-orang yang memandikan anaknya di Masjid Agung Batang. Para pelaku ritual biasanya berasal dari luar warga sekitar alun-alun Batang yang kebanyakan adalah ibu-ibu yang mempunyai anak-anak kecil yang memang sedang sakit atau dimandikan di Masjid tersebut hanya untuk kesehatan putra-putri para pelaku ritual tersebut. Dan para pelaku ritual ini tidak hanya terfokus untuk malakukan ritual saja tetapi juga melakukan aktifitas berjalan-jalan di pasar malam Kliwonan.
Terdapat perbedaan kegiatan dan aktifitas para pelaku tradisi, masyarakat pendukung cenderung berbaur menjadi satu, tidak selalu hanya melakukan salah satu kegiatan saja. Karena dalam tradisi ini tidak bersifat mengikat satu sama lain, tetapi berfungsi sebagai hiburan dan pelaksanaan kepercayaan saja (Koentjaraningrat, 1974: 6). Masyarakat pendukung tradisi Kliwonan berikutnya adalah para pelaku seniman-seniman yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang mengisi acara pertunjukan kesenian dalam tradisi Kliwonan. Para seniman dalam tradisi kliwonan adalah orang-orang pilihan atau perwakilan dari semua kecamatan di Kabupaten Batang. Para seniman memang tidak terjun langsung dalam acara yang menganggap penting dalam Kliwonan yaitu pasar malam, namun secara tidak langsung para seniman ikut maramaikan tradisi Kliwonan.
Pihak pemerintah setempat juga berperan penting dalam tradisi Kliwonan, ataupun pihak tersebut tidak terjun langsung sebagai pengatur jalannya tradisi Kliwonan. Pihak pemerintah yang bersangkutan dengan pelaksanaan tradisi Kliwonan adalah KKP (Kantor Kebersihan dan Pertamanan) yang bekerja sama dengan Polsek Batang yang menertibkan jalannya tradisi Kliwonan, pihak Kantor Pariwisata yang menyelenggarakan pertunjukan kesenian, dan Bagian Humas (Hubungan Masyarakat) yang bekerja sama dengan Radio Abirawa FM yang menyelenggarakan pemutaran film serta sarana informasi. Para pedagang yang berjualan di pasar kliwonan setiap bulannya relatif tetap karena mereka sudah mempunyai tempat tetap untuk berjualan, khususnya para pedagang yang tergolong besar.

Peran masyarakat dalam mengembangkan tradisi Kliwonan
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama (Koentjaraningrat, 1990:146). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang terorganisasi, yang hidup dan bekerja sama, yang berinteraksi dalam mencapai tujuan bersama (Joyomartono. 1991:12). Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan individu yang mempunyai tujuan bersama dalam satu wilayah tertentu yang saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama dengan aturan-aturan atau norma-norma yang dipatuhi bersama serta menghasilkan suatu kebudayaan.
Setiap manusia senantiasa mengalami perubahan, perubahan tersebut terjadi sebagai akibat kebutuhan dari masyarakat itu sendiri yang semakinmkompleks. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial,mnorma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisanlapisan dalam masyrakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial, dan lain sebagainya.
Tradisi Kliwonan yang ada di Kota batang muncul sejak dulu seiring dengan perkembangan daerah Batang. Walaupun telah ada beberapa perubahan dalam hal kegiatan yang dilaksanakan dalam tradisi Kliwonan, namun tradisi ini mampu bertahan hingga sekarang dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini tetapi dipegang teguh oleh masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini tetap dipegang teguh oleh masyarakat pendukungnya, sehingga tradisi tersebut mampu mempertahankan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat seiring perkembangan jaman.
Bertahannya suatu tradisi dalam suatu masyarakat tidaklah mudah, karena dalam suatu masyarakat pasti akan muncul peradapan baru, karena adanya suatu perubahan sosial budaya masyarakat tersebut. Kebudayaan tidak mungkin lestari, kalau tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok tertentu masyarakat pendukungnya. Kebudayaan harus mampu memproduksi dan mendistribusikan barangbarangdan jasa, yang dipandang perlu dalam hidup. Kebudayaan harus menjamin kelestarian biologis, dengan cara memproduksikan anggota-anggotanya. Para anggota yang baru harus dienkulturasikan sehingga dapat berperilaku sebagai orang dewasa. Kebudayaan harus memelihara ketertiban diantara para anggotanya dan orang luar. Akhirnya kebudayaan harus memberi motifasi kepada para anggotanya untuk bertahan hidup dan mengadakan kegiatan-kegiatan yang perlu untuk kelangsungan hidup itu (Haviland, 1999: 351).
Seperti halnya dengan salah satu kebudayaan di Batang yaitu tradisi Kebudayaan Kliwonan yang masih tetap bertahan hingga sekarang walaupun sudah terdapat banyak perubahan dalam bentuk dan aktifitasnya. Semua kebudayaan berubah sebagai tanggapan atas berbagai hal seperti masuknya orang luar, atau terjadinya modifikasi perilaku dan nilai-nilai di dalam kebudayaan.
Begitu pula dengan tradisi Kliwonan, yang mendapatkan perubahan dalam berbagai sisi, namun mampu mempertahankan keberadaannya walaupun bersaing dengan kebudayaan-kebudayaan baru yang mulai bermunculan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi bertahannya suatu tradisi adalah faktor ekonomi dan sosial. Dalam faktor ekonomi sudah dapat kita ketahui bahwa terdapat keuntungan yang didapat dari pelaksanaan tradisi. Pada tradisi ini terdapat pasar malam memiliki keuntungan berupa pemasukan daerah Kabupaten Batang, pemuasan bagi penjual dan pembeli di Kliwonan dan kekayaan budaya di daerah Batang. Secara tidak langsung, masyarakat pendukung Kliwonan selalu berusaha untuk mempertahankan tradisi ini dengan selalu melaksanakan tradisi Kliwonan tanpa adanya pemaksaan tetapi karena adanya kebutuhan. Dalam faktor sosial, terdapat interaksi antar anggota masyarakat pendukung tradisi, yang di dalamnya terdapat sosialisasi yang dilakukan oleh orang-orang dewasa kepada para anggota baru terhadap tradisi Kliwonan.
Suatu perubahan sosial dan budaya akan berakibat menguntungkan dan merugikan. Suatu perubahan yang terjadi mengharuskan perlunya memodifikasi pola tingkah laku. Begitu pula dengan tradisi Kliwonan, yang cenderung memberikan keuntungan bagi semua pihak, yang akhirnya memberikan tradisi Kliwonan kekuatan untuk terus bertahan. Jadi tradisi ini dapat bertahan hingga sekarang dikarenakan oleh masyarakat pendukungnya yang tetap untuk selalu melaksanakannya karena kebutuhan akan tradisi itu sendiri.

Tata cara dalam pelaksanaan tradisi Kliwonan
Dalam melaksanakan tradisi ini tidak terdapat persiapan-persiapan yang khusus bagi masyarakat pendukungnya. Hal itu karena tradisi ini merupakan sebuah pasar, maka dalam melakukan tradisi persiapan hanya dilakukan oleh para pedagang dan tim pertunjukan kesenian. Para pedagang biasanya mulai menjajakan barang dagangannya pada hari Kamis siang hari. Namun terdapat diantara para pedagang ada yang sudah menempati tempat berdagang dan memasang tenda-tenda untuk barang dagangannya sebelum hari Kamis Wage, diantaranya yaitu para pedagang yangberasal dari luar daerah Batang.
Seperti halnya persiapan tradisi Kliwonan, dalam tradisi Kliwonan tidak terdapat peralatan yang dipersiapkan secara khusus masyarakat pendukungnya, karena dalam tradisi ini bersifat individual yaitu menyangkut kepentingan masingmasing individu yang ingin melaksanakan tradisi Kliwonan. Contohnya para pengunjung Kliwonan yang hanya memerlukan pakaian yang pantas dan uang secukupnya untuk berjalan-jalan di alun-alun. Para pedagang di pasar malam Kliwonan hanya perlu mempersiapkan peralatan untuk keperluan berdagang, seperti barang yang akan diperdagangkan, tenda untuk tempat berjualan jika ada, dan lain-lain. ibu-ibu yang melakukan ritual memandikan anaknya di masjid pun memerlukan peralatan yang spesifik. Para ibu tersebut hanya membawa pakaian ganti untuk anaknya yang akan dimandikan, karena biasanya pakaian anak yang baru dimandikan akan dibuang di bawah pohon beringin di alun-alun, namun ada juga yang tidak dibuang.
Alasan ibu-ibu membawa anak-anak untuk dimandikan dengan air di masjid terebut sangat beragam, diantaranya adalah karena ingin meyembuhkan penyakit yang diderita oleh anaknya, mempercepat pertumbuhan motorik sang anak (berbicara, berjalan, dan lain-lain), dan menghindarkan si anak dari segala penyakit, karena anak kecil biasanya rawan terserang penyakit.
Tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa maksud dilaksanakannya ritual mandi adalah sebagai sarana pengobatan. Ibu Wiwik mengaku bahwa melakukan ritual tersebut semenjak putranya lahir di setiap tradisi Kliwonan berlangsung dan jika tidak berhalangan. Ibu Wiwik mengetahui ritual tersebut dari para orang tua karena hal tersebut sudah menjadi kabiasaan yang turun-temurun dan banyak orang yang mempercayainya. Dan tidak terdapat doa-doa tertentu ketika mengiringi upacara ritual tersebut, yang dilakukan hanya mengucapkan niat menurut kepercayaan masing-masing orang yaitu anak mencari berkah dan penyembuhan penyakit agar diridhoi Allah SWT.
Penyelenggaraan tradisi Kliwonan pada masa sekarang maupun jaman dahulu menjadi suatu kesepakatan bersama yang tidak tertulis, yang dilaksanakan setiap 35 hari di malam Jumat Kliwon pada penanggalan Jawa. Tradisi ini merupakan upacara yang bersifat individual, dalam perlaksanaan tradisi baik pasar malam maupun ritual tergantung dari masing-masing individu dan tidak ada yang mengkoordinasi. Hanya dalam penentuan tempat berjualan saja yang dikoordinasi oleh pemerintah daerah. Masyarakat sudah tahu kapan tradisi Kliwonan akan dilaksanakan tanpa disuruh dan diatur, dan dengan sendirinya pada hari Kamis Wage sore sampai malam harinya masyarakat pendukung tradisi mulai berbondong-bondong mendatangi alun-alun Batang untuk meramaikan tradisi tersebut. Seperti penuturan Bapak Bambang bahwa dengan sendirinya ia akan selalu berdagang di alun-alun kota Batang pada saat tradisi Kliwonan, dan merupakan salah satu ajang keramaian yang dinanti-nantikan oleh para pedagang.
Telah dikemukakan diatas bahwa tidak terdapat koordinasi secara tertulis maupun ketetapan dalam pelaksaan tradisi Kliwonan, karena setiap individu datang dengan maksud dan tujuan sendiri, namun terdapat kesepakatan bersama yang tidak tertulis bahwa setiap masyarakat pendukung akan melaksanakan ritual pada hari Kamis Wage sampai malam Jumat Kliwon. Tindakan para pelaku ritual berjalan dengan sendirinya dan apa yang disebut pimpinan upacara tidak terdapat di sini, karena para pelaku ritual melakukan ritual tradisi dengan kepercayaan masing-masing. Hal ini menjadi keunikan, karena dalam upacara Kejawen selalu mengutamakan doa-doa yang sangat rumit, sesaji dan ada orang yang memimpin jalannya upacara. Namun dalam pelaksaan ritual ngalap berkah tradisi Kliwonan di kota Batang tidak mementingkan hal-hal tersebut. Doa yang mengiringi pelaksanaan ritual ngalap berkah menyesuaikan niat dan kepercayaan masing-masing pelaku ritual, tidak ada sesaji yang khusus dana kalaupun ada, tidak menjadi suatu hal yang mencolok, dan jika ada pemimpin upacara hanya memimpin untuk kalangan keluarga masing-masing pelaku ritual ngalap berkah.
 Tradisi Kliwonan semula dengan ritual-ritual yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya dalam rangka untuk mendapatkan berkah. Kegiatan yang dilakukan di antaranya adalah guling-guling badan dan mandi, tirakatan, sawer. Selain ritual tersebut kegiatan lainnya adalah mencari jodoh bagi muda-mudi, perjualan untuk mencari berkah, atau hanya sekedar berjalan-jalan dan melihat-lihat keramaian di alun-alun. Pengunjung tradisi Kliwonan datang pada hari Kamis Wage sore di alun-alun, di mana para pengunjung mempunyai maksud tertentu sesuai dengan tujuannya.
Upacara ritual gulingan dilakukan di sekitar alun-alun Batang tepatnya dilakukan di rerumputan sekitar pohon beringin. Ritual gulingan ini biasanya diberlakukan untuk anak-anak kecil dan dilakukan sekitar 3 menit. Bahwa dalam menggulingkan anak-anak tersebut terdapat berbagai variasi. Dalam pelaksanaannya ada orang tua yang menambahi ritual dengan mengusap-usap dahi anaknya, kemudian ada yang menendang-nendangkan kaki anaknya di rerumputan serta masih banyak variasi lain menurut kepercayan masing-masing orang yang melakukan ritual.
Makna berguling badan di rerumputan dapat diartikan bahwa agar pelaku ritual dapat ikut merasakan pahit getirnya orang yang serba kekurangan dan menghayati bahwa dalam meraih sesuatu itu membutuhkan pengorbanan. Setelah mengguling-gulingkan anaknya di rerumputan kemudian si anak dibawa ke masjid untuk dimandikan di tempat wudlu sebelah utara atau bagian laki-laki. Seperti yang pernah diungkapkan bahwa tempat wudlu tersebut, airnya dipercaya mengandung berkah dan dapat menyembuhkan penyakit serta menghindarimusibah, karena diambil dari sebelah makam Sunan Sendang. Di Masjid Agung ini ada anak-anak yang dimandikan, dan ada yang hanya dibasuh mukanya saja.
Setelah acara memandikan tersebut kemudian orang tua beserta sang anak kembali ke alun-alun untuk membuang bekas pakaian yang tadi telah dipakai anak sewaktu diguling-gulingkan di rerumputan. Makna dari membuang pakaian ini adalah mengenai sosial ekonomis masyarakat untuk menyantuni orang-orang yang kekurangan. Terkadang dalam membuang pakaian tersebut disertai dengan membagi-bagikan makanan kecil. Biasanya juga ada sebagian masyarakat pendukung tradisi yang membagi-bagikan uang logam kepada anak-anak kecil atau orang yang kekurangan di sekitar komplek Masjid Agung. Namun sekarang sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan sodaqoh di kotak amal di depan Masjid Agung.
Tirakatan biasanya dilakukan oleh orang-orang dewasa pada malam hari kadang-kadang sampai pada pagi harinya. Kegiatan yang dilakukan para pelaku ritual tersebut akhirnya mengandung penasaran masyarakat sekitar untuk menonton dan menyaksikan acara tersebut, sehingga ramailah suasana di malam Jumat Kliwon itu. Para muda-mudi selain berjalan-jalan terkadang menggunakan kesempatan untuk mencari jodoh. Keramaian malam di alun-alun itu kemudian mengundang para penjual makanan untuk dagang dan berjualan di sana.
Yang merupakan makanan khas pada saat Kliwonan adalah makanan Gemblong-Klepon. Gemblong berwarna putih yang terbuat dari ketan dan diiris kotak-kotak besar. Sedangkan Klepon berbentuk bulat-bulat kecil berwarna hijau yang terbuat dari beras ketan serta terdapat cairan gula jawa di dalamnya. Gemblong-Ketan disajikan dengan sedikit kuah santan dan siraman cairan gula jawa. Penjual makanan Gemblong-Klepon telah ada dari jaman dahulu hingga tradisi Kliwonan yang sekarang. Konon katanya makanan Gemblong-Klepon tersebut akan memberikan berkah kepada orang yang memakannya. Bagi pedagang terdapat kepercayaan bahwa jika berdagang di Kliwonan tersebut maka barang-barang yang ia jual akan laku keras. Andaikata tidak laku di Kliwonan, maka terdapat kepercayaan bahwa di lain hari selama 35 hari barang dagangannya akan laku keras.
Pada tradisi kliwonan pada jaman dahulu juga terdapat pengajian dan dakwah di Masjid Agung. Seperti penuturan bapak Basuki bahwa pada tradisi Kliwonan pada jaman dahulu mempunyai maksud dan tujuan, yaitu untuk menghormati para pendahulu Batang (Bahurekso dan lain-lain), kejawen (sarana pengobatan), dan dakwah serta pengajian.
Dalam melaksanakan tradisi Kliwonan tidak terdapat larangan atau pantangan yang begitu berarti. Namun terdapat kepercayan bahwa bagi orangorang yang telah menjalankan ritual guling badan dan mandi harus membuang pakaian yang tadi telah dipakainya, karena jika hal tersebut tidak dilakukan maka permohonannya tidak akan terkabul. Tetap kepercayaan yang demikian agaknya sudah tidak berlaku lagi, walaupun masih ada sebagian yang tetap melaksanakannya.
Dalam upacara ritual tidak terdapat penutupan secara resmi, karena dalam tradisi ini bersifat individual. Jadi jika ada orang-orang yang sudah melaksanakan tradisi tersebut, maka dengan sendirinya ia akan meninggalkan alun-alun Batang. Jika waktu sudah menunjukkan larut malam para pengunjung pun mulai pulang.
Seperti halnya penyelenggaraan tradisi Kliwonan pada masa dahulu saat sekarang ini tradisi Kliwonan juga tidak terdapat ketetapan secara tertulis tentang penyelenggaraannya. Semuanya sepakat dan tahu bahawa pada hari Kamis Wage sore sampai malam hari akan diselenggarakan pasar malam Jumat Kliwonan. Jadi dengan sendirinya para pedagang mulai akan memasang tenda untuk tempat berdagang dan mulai menata barang dagangannya sebelum hari Kamis Wage sore, yaitu ada yang pagi hari, malam hari sebelum hari Kamis Wage sore, yaitu ada yang pagi hari, malam hari sebelum hari Kamis Wage bahkan 2 atau 3 hari yang dalam hal ini berperan sebagai pengunjung Kliwonan mulai berdatangan dari hariKamis Wage sore sampai malam harinya, dan ada pula terdapat pengunjung yang mulai berjalan-jalan pada siang hari.
Pada tradisi Kliwonan tidak terdapat peraturan kapan dimulainya pelaksanaan tradisi tersebut. Jadi tradisi ini bisa dilakukan setiap saat pada hari Kamis Wage tersebut sampai malam harinya. Biasanya alun-alun mulai dipadati oleh pengunjung pada waktu sore hari yaitu pukul 16.30 WIB. Seiring waktu, selain ramai dan padatlah alun-alun oleh para pengunjung yang berdatangan.
Para pedagang mulai menata dagangannya pada siang hari. Bahkan ada pedagang yang mulai berdagang dari pagi hari seperti penjual tanaman hias dan pedagang pakaian impor. Hasil pengamatan pada pagi hari pukul 06.00 WIB sudah terdapat pengunjung yang biasanya sedang berjalan-jalan di pagi hari di alun-alun karena hal itu merupakan kebiasaan masyarakat Batang pada pagi hari, kemudian tertarik untuk melihat-lihat tanaman hias yang dijual. Satu persatu kemudian para pedagang mulai mempersiapkan tempat berdagang dan menata barang dagangannya, yang kemudian menarik perhatian orang-orang di sekitar alun-alun untuk sekedar melihat-lihat persiapan tradisi Kliwonan yang masih berupa kerangka pasar malam. Orang-orang yang sedang berjalan-jalan tersebut melihatlihat dan jika ada barang yang diminatinya maka akan dibeli dengan harapan harganya lebih murah karena pasar malam Kliwonan belum begitu ramai.
Pada pukul 16.00 WIB para pengunjung mulai berdatangan dan sekitar pukul 16.30 WIB seperti menjadi awal keramaian dari tradisi Kliwonan. Pengunjung berdatangan dari berbagai kecamatan di Batang bahkan ada yang datang dari kota Pekalongan. Pengunjung yang terdiri dari anak-anak muda biasanya mulai terlihat pada malam hari. Pada sore hari biasanya terlihat orang-orang dewasa yang memang ada keperluan untuk membeli sesuatu. Pengunjung yang berasal dari luar kecamatan Batang khususnya berjarak jauh dari Kota Batang biasanya mengunakan jasa mobil sewaan (carteran) untuk mengangkut para pengunjung dari rumahnya hingga alun-alun Batang. Mereka datang berombongan baik anak muda maupun dewasa. Sedangkan pengunjung yang menggunakan jasa angkutan umum dapat menikmati jasa tersbut hingga sampai malam hari, karena pada hari biasanya kecuali malam Jumat Kliwon, angkutan pedesaan dan antar kecamatan beroperasi sampai pukul 18.00 WIB.
Hubungan tradisi Kliwonan dengan tradisi Jumat Kliwon di sungai Kramat yaitu merupakan serangkaian dari Malam Jumat Kliwon atau Kliwon. Jika tradisi Kliwonan di laksanakan di alun-alun maka tradisi Kliwon dilaksanakan di sungai Kramat. Tradisi Malam Jumat Kliwon dan tradisi Jumat Kliwon dikatakan suatu rangkaian karena keduanya sama-sama dilakukan sebagai sarana pengobatan dan juga untuk mengenang para leluhur masyarakat Batang. Seperti dikisahkan di muka bahwa jaman dahulu Bahurekso pernah bersemedi di sungai Kramat padahari Jumat Kliwon. Dan ternyata hari itu dianggap mempunyai kekuatan mistis begitu pula dengan sungai Kramat yang dipercaya dapat memberikan kekuatan kepada Bahurekso. Bapak Basuki, berpendapat bahwa Jumat Kliwon bagi umat Islam dianggap sebagai hari besar, hari yang dikeramatkan dan sebagai waktu yang baik untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.
Semula maksud diadakannya tradisi Jumat Kliwon adalah untuk mengenang dan menghayati nilai-nilai perjuangan para pendiri kota kabupaten Batang, serta mengikuti keteladanan dari para tokoh panutan yang telah meninggal, dan lokasi makamnya dipercaya banyak terdapat di sekitar sungai Kramat ini. Kemudian selain untuk mengenang para leluhur, masyarakat pendukung juga melakukan ritual ngalap berkah untuk sarana pencarian jodoh atau sarana pengobatan.
Sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua pada jaman dahulu pada hari Jumat Kliwon di sungai Kramat adalah mandi sambil memohon berkah agar dikabulkan permintaannya dan permohonan yang sering dilakukan adalah meminta jodoh. Pangeran Mandurorejo (bupati pertama terhitung dari tahun 1614) member semacam sugesti, yaitu para peziarah yang mau pergi ke sungai Kramat dan sekurang-kurangnya membasuh muka dengan air sungai tersebut, maka dia akan cepak rejeki (mendapatkan banyak rejeki) dan hilang sebel (hilang sial) selama selapan dina (35 hari). Berkenan dengan kepercayaan tersebut, maka peziarah dari waktu ke waktu kian bertambah.
Tradisi Jumat Kliwon dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon. Bertolakndengan kenyataan bahwa banyak orang yang mengunjungi sungai Kramat tersebut dan lokasi di sekitarnya menjadi tempat pariwisata. Tradisi Kliwonan di alun-alun tradisi Jumat Kliwon sekarang juga sudah berubah dalam pelaksaannya. Sekarang yang terdapat di sana hanyalah pertunjukan dangdut yang diadakan di panggung pertunjukan di dalam objek wisata kramat dengan para penonton yang kebanyakan para muda-mudi dari desa. Jadi yang terlihat sekarang adalah cenderung tradisi yang bersifat hura-hura daripada kegiatan yang bersifat mistis yang pernah dilaksanakan pada jaman dahulu. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh pola piker masyarakat Batang yang cenderung modern. Diharapkan dengan adanya tradisi tersebut selain dapat melestarikan nilai-nilai perjuangan para leluhur, juga dapat menambah pendapatan Pemda Kabupaten Batang serta kesejahteraan masyarakat pendukungnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar