Daftar Blog Saya

Sabtu, 05 Mei 2012

TEORI SOSIOLOGI MODERN


TEORI SOSIOLOGI MODERN
a. Sosiologi Amerika: Mazhab Chicago
Sosiologi menjadi populer di Amerika Serikat (AS) karena proses perubahan sosial yang sangat pesat. Hal itu disebabkan masyarakat AS yang pragmatis dan kapitalis. Sosiologi Amerika berbeda dengan Sosiologi Eropa yang memiliki akar ilmiah. Sosiologi di AS berkonsentrasi pada kajian empiris yang menangkap detail-detail faktual atas apa yang sebenarnya terjadi. Melalui studi tersebut lahir tokoh-tokoh seperti Lester W Ward (1841-1913) yang menulis tentang hukum-hukum dasar kehidupan sosial, Dubois (1868-1963) dan Jane Adams (1860-1935) yang melakukan survei investigasi yang menggambarkan kondisi masyarakat, seperti masalah diskriminasi ras, perbudakan, dan kondisi perkampungan kumuh.
Studi tentang kondisi riil masyarakat terus berkembang seiring dibukanya Jurusan Sosiologi di Universitas Chicago. Sosiolog Chicago memproklamirkan studi yang sama sekali baru terhadap suatu proses sosial dengan mengkaji masyarakat secara kelompok kecil, karena masyarakat tumbuh dengan pesat dan multietnis. Aliran ini terkenal dengan Mazhab Chicago, yang secara spesifik memfokuskan diri pada bagaimana persepsi individu terhadap situasi pembentukan budaya dan respon kelompok. Beberapa tokoh penting aliran Chicago adalah: Robert Ezra Park (1864-1944) dengan pendekatan ekologisnya, Louis Wirth (1897-1952) dengan Teori Urbanisme, George Herbert Mead (1863-1931) menciptakan Teori Diri dan konsep Sosialisasi, Charles Horton Cooley melontarkan Teori Looking Glass-Self atau Cermin Diri. Sosiologi Amerika pada masa ini juga bisa dikatakan sebagai periode peralihan dari pemikiran sosiologi klasik ke modern.
b. Teori Fungsionalisme Struktural
Teori/Perspektif ini menekankan pada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik serta perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep-konsep utamanya adalah: fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifes dan keseimbangan (equilibrium).
Dalam teori/perspektif ini, suatu masyarakat dilihat sebagai suatu jaringan kelompok yang bekerjasama secara terorganisasi yang bekerja dalam suatu cara yang agak teratur menurut seperangkat peraturan dan nilai yang dianut oleh sebagian besar masyarakat tersebut. Masyarakat dipandang sebagai suatu sistem yang stabil dengan suatu kecenderungan ke arah keseimbangan, yaitu suatu kecenderungan untuk mempertahankan sistem kerja yang selaras dan seimbang. Dengan kata lain, masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitandan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pada bagian yang lain. Asumsi dasarnya adalah setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Para tokoh dalam perspektif fungsionalis: Talcott Parsons (1937), Kingsley Davis (1937), dan Robert K. Merton (1957)
Talcott Parsons (1902-1979) mensistemasi rumusan-rumusan terdahulu tentang pendekatan fungsionalis terhadap sosiologi. Parsons mengawali dari masalah aturan yang dikemukakan filsuf terdahulu Thomas Hobbes (1585-1679). Hobbes mengatakan bahwa manusia mungkin secara alamiah saling mencakar satu sama lain kecuali jika dikontrol dan dikekang secara sosial.
Berpijak dari pandangan itu, Parsons mengembangkan Teori Sistem (1951) yang menguraikan panjang lebar tentang apa yang disebut prasyarat fungsional bagi keberlangsungan sebuah masyarakat. Prasyarat tersebut adalah A-G-I-L:
a) Adaptation (adaptasi): bagaimana sebuah sistem beradaptasi dengan lingkungannya. Konsep ini dikaitkan dengan faktor ekonomi.
b) Goal Attainment (pencapaian tujuan): menentukan tujuan yang kepadanya anggota masyarakat diarahkan. Konsep ini dikaitkan dengan faktor politik.
c) Integration (integrasi): kebtuhan untuk mempertahankan keterpaduan sosial. Konsep ini dikaitkan dengan faktor sosial.
d) Laten-Pattern Maintenance (pemeliharaan pola): sosialisasi atau reproduksi masyarakat agar nilai-nilai tetap terpelihara. Konsep ini dikaitkan dengan faktor budaya.
Ide Parsons mengenai Teori Sistem adalah bahwa masyarakat merupakan sistem yang mengatur diri sendiri. Perubahan dalam satu bagian dari sistem akan menghasilkan reaksi dan kompensasi pada bagian yang lain. Agar masyarakat dapat bertahan, diperlukan unsur-unsur prasyarat fungsional yang saling mendukung, yaitu: kontrol sosial, sosialisasi, adaptasi, sistem kepercayaan (agama), kepemimpinan, reproduksi, stratifikasi sosial, dan keluarga.
c. Teori Konflik
Teori ini dibangun untuk menentang secara langsung terhadap Teori Fungsionalisme Struktural. Para teoritisi konflik melihat bahwa masyarakat sebagai berada dalam konflik yang terus menerus diantara kelompok dan kelas. Bertentangan dengan para fungsionalis yang melihat keadaan normal masyarakat sebagai suatu keseimbangan yang mantap.
Perspektif konflik secara luas terutama didasarkan pada karya Karl Marx (1818-1883), yang melihat pertentangan dan eksploitasi kelas sebagai penggerak utama kekuatan-kekuatan dalam sejarah. Setelah untuk waktu yang lama perspektif konflik diabaikan oleh para sosiolog, baru-baru ini perspektif tersebut telah dibangkitkan kembali oleh C. Wright Mills (1956-1959), Lewis Coser (1956) dan yang lain Ralph Dahrendorf (1959), Randall Collins, dan Jonathan Turner.
Sekalipun Marx memusatkan perhatiannya pada pertentangan antar kelas untuk pemilikan atas kekayaan yang produktif, para teoretisi konflik modern berpandangan sedikit lebih sempit. Mereka melihat perjuangan meraih kekuasaan dan penghasilan sebagai suatu proses yang berkesinambungan terkecuali satu hal, dimana orang-orang muncul sebagai penentang – kelas, bangsa, kewarganegaraan dan bahkan jenis kelamin.
Para teoretisi konflik memandang suatu masyarakat sebagai terikat bersama karena kekuatan dari kelompok atau kelas yang dominan. Mereka mengklaim bahwa “nilai-nilai bersama’ yang dilihat oleh para fungsionalis sebagai suatu ikatan pemersatu tidaklah benar-benar suatu konsensus tersebut adalah ciptaan kelompok atau kelas yang dominan untuk memaksakan nilai-nilai seta peraturan mereka terhadap semua orang.
Menurut para teoretisi konflik, para fungsionalis gagal mengajukan pertanyaan, “secara fungsional bermanfaat untuk siapa”. Para teoretisi konflik menuduh para fungsionalis berasumsi bahwa “keseimbangan yang serasi” bermanfaat bagi setiap orang sedangkan hal itu menguntungkan beberapa orang dan merugikan sebagian lainnya. Para teoretisi konflik memandang keseimbangan suatu masyarakat yang serasi sebagai suatu khayalan dari mereka yang tidak berhasil mengetahui bagaimana kelompok yang dominan telah membungkam mereka yang dieksploitasi. Para teoretisi konflik mengajukan pertanyaan seperti “Bagaimana pola saat ini timbul dari perebutan antara kelompok-kelompok yang bertentangan, yang masing-masing mencari keuntungan sendiri?”, “Bagaimana kelompok dari kelas yang dominan mencapai dan mempertahankan hak istimewa mereka?”, “Bagaimana mereka memanipulasi lembaga-lembaga masyarakat (sekolah, gereja, media massa) untuk melindungi hak istimewa mereka?”, “Siapa yang beruntung dan siapa yang menderita dari struktur sosial saat ini?”, “Bagaimana masyarakat bisa dibentuk lebih adil dan lebih manusiawi?”.
d. Teori Neo-Marxis: Teori Kritis
Teori kritis memandang bahwa kenetralan teori tradisional/klasik sebagai kedok pelestarian keadaan yang ada (mempertahankan statusquo). Padahal menurut Teori Kritis, realitas yang ada itu adalah realitas semu yang menindas, oleh karena itu harus disibak, dibongkar dengan jalan mempertanyakan mengapa sampai menjadi realitas yang demikian. Teori kritik lahir untuk membuka seluruh selubung ideologis yang tak rasional yang telah melenyapkan kebebasan dan kejernihan berpikir manusia modern.
Berpikir kritis adalah berpikir dialektis, yaitu berbikir secara totalitas timbal balik. Totalitas berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur saling bernegasi (mengingkari atau diingkari), berkontradiksi (melawan atau dilawan), dan saling bermediasi (memperantarai atau diperantarai). Pemikiran dialektis menolak kesadaran yang abstrak, misalnya individu dan masyarakat (Sindhunata, 1983).
Pemanfaatan Teori Kritis dalam pembangunan sebagai wujud dari perubahan sosial tentunya mempunyai prasyarat. Pertama, harus curiga dan kritis terhadap masyarakat. Kedua, harus berpikir secara historis (mencari sebab-musababnya). Ketiga, tidak memisahkan antara teori dan praktis.
Berbicara teori kritis tidak terlepas dari aliran pemikiran Mazhab Frankfurt. Kelompok teori kritis Jerman ini terabaikan ketika mereka menulis pada tahun 1930-1940-an tetapi mulai diperhatikan sekitar tahun 1960-an. Mereka melibatkan diri dalam persoalan bahwa masyarakat tidak memperlihatkan perkembangan revolusioner sederhana seperti yang diramalkan Marx. Mazhab Frankfurt ini beranggotakan tokoh-tokoh “kiri” yang terkenal, antara lain: Felix Weil, Friedrich Pollock, Max Horkheimer, Karl Wittfogel, Theodor Adorno, Walter Benjamin, Herbert Marcuse, dan Erich Fromm.
1) Herbert Marcuse: One Dimensional Man
Herbert Marcuse (1898-1979) merupakan anggota Mazhab Frankfurt yang setengah hati. Menjadi terkenal selama tahun 1960-an karena dukungannya terhadap gerakan radikal dan anti-kemapanan. Dia pernah dijuluki “kakek terorisme”, merujuk pada kritiknya tentang masyarakat kapitalis, One Dimensional Man (1964) yang berargumen bahwa kapitalisme menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, kesadaran palsu, dan budaya massa yang memperbudak kelas pekerja.
2) Jurgen Habermas: Komunikasi Rasional
Setelah tahun 1960-an, sosiologi makin menyadari pentingnya faktor kebudayaan dan komunikasi dalam menganalisis masyarakat. Jurgen Habermas (1929- ) menggabungkan kesadaran baru dengan Mazhab Frankfurt. Habermas membicarakan komunikasi rasional dan kemungkinan keberadaannya dalam masyarakat kapitalis. Dalam karyanya The Theory of Communicative Action (1981), Habermas mengemukakan analisis kompleks tentang masyarakat kapitalis dan cara-cara yang mungkin untuk melawan melalui emansipasi komunikatif dan moral.
3) Antonio Gramsci: Hegemoni
Antonio Gramsci (1891-1937), seorang sosiolog Italia adalah seorang pemikir kunci dalam pendefinisian ulang perdebatan mengenai kelas dan kekuasaan. Konsepnya tentang Hegemoni menjadi diskusi tentang kompleksitas masyarakat modern. Gramsci menyatakan bahwa kaum Borjuis berkuasa bukan karena paksaan, melainkan juga dengan persetujuan, membentuk aliansi politik dengan kelompok-kelompok lain dan bekerja secara ideologis untuk mendominasi masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat berada dalam keadaan tegang terus-menerus.
Ide mengenai hegemoni (memenangkan kekuasaan berdasarkan persetujuan masyarakat) sangat menarik karena pada kenyataannya individu selalu bereaksi terhadap dan mendefinisi ulang masyarakat dan kebudayaan tempat mereka berada. Ide-ide Gramsci selanjutnya banyak berpengaruh pada studi kebudayaan dan budaya populer.
e. Teori Aksi
Teori ini mengikuti sepenuhnya karya Max Weber yang mencapai puncak perkembangannya sekitar tahun 1940, dengan beberapa karya sosiolog. Seperti Florian Znaniecki, Robert M. Mac Iver, Talcot Parsons, dan Robert Hinkle. Beberapa asumsi fundamental Teori Aksi dikemukakan Hinkle dengan merujuk karya Mac Iver, Znaniecki dan Parson, sebagai berikut:
a) Tindakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai obyek.
b) Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Jadi tindakan manusia bukan tanpa tujuan
c) Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik,prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
d) kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tidak dapat diubah dengan sendirinya.
e) Manusia memilih, menilai, mengevaluasi terhadap tindakan yang akan, sedang dan yang telah dilakukannya.
f) Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan
g) Studi mengenai antar hubungan sosial memerlukanj pemakaian teknik penemuan yang bersifat subyektif, seperti metode verstehen, imajinasi, symphatetic reconstruction atau seakan-akan mengalami sendiri (vicarious experience)
Talcot Parsons, merupakan pengikut Weber yang utama sebagaimana para pengikut Teori Aksi yang lain menginginkan adanya pemisahan antara Teori Aksi dan Aliran Behaviorisme. Istilah yang dipilih adalah “action” bukan “behavior” karena memiliki konotasi yang berbeda. “Behavior” secara tidak langsung menyatakan kesesuaian secara mekanik antara perilaku (respons) dengan rangsangan dari luar (stimulus). Sedangkan “action” menyatakan secara tidak langsung suatu aktivitas, kreativitas dan proses penghayatan diri individu.
Parsons menyusun skema unit-unit dasar tindakan sosial dengan karakteristik sebagai berikut:
a) Adanya individu sebagai aktor
b) Aktor dipandang sebagai pemburu tujuan-tujuan tertentu
c) Aktor mempnyai alternatif cara,alat serta teknik untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
d) Aktor berhadapan dengan sejumlah kondisi situasional yang dapat membatasi tindakannya dalam mencapai tujuan. Kendala tersebut berupa situasi dan kondisi, sebagaian ada yang tidak dapat dikendalikan oleh individu. Misalnya: jenis kelamin dan tradisi
e) Aktor berada di bawah kendala dari nilai-nilai, nrma-norma dan berbagai ide abstrak yang mempengaruhinya dalam memilih dan menentukan tujuan serta tindakan alternatif untuk mencapai tujuan (voluntarisme).
f. Teori Interaksionisme Simbolik
Perspektif ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat karena istilah “masyarakat”, “negara”, dan “lembaga masyarakat” adalah abstraksi konseptual saja, sedangkan yang dapat ditelaah secara langsung hanyalah orang-orang dan interaksinya saja.
Para ahli interaksi simbolik seperti G.H. Mead, C.H. Cooley, dan John Dewey memusatkan perhatiannya terhadap interaksi antara individu dan kelompok. Mereka menemukan bahwa orang-orang berinteraksi terutama dengan menggunakan simbol-simbol yang mencakup tanda, isyarat, dan yang paling penting, melalui kata-kata secara tertulis dan lisan. Suatu kata tidak memiliki makna yang melekat dalam kata itu sendiri, melainkan hanya suatu bunyi, dan baru akan memiliki makna bila orang sependapat bahwa bunyi tersebut mengandung suatu arti khusus.
Charles Horton Cooley (1846-1929) memandang bahwa hidup manusia secara sosial ditentukan oleh bahasa, interaksi dan pendidikan. Secara biologis manusia tiada beda, tapi secara sosial tentu sangat berbeda. Perkembangan historislah yang menyebabkan demikian. Dalam analisisnya mengenai perkembangan individu, Cooley mengemukakan teori yang dikenal dengan Looking Glass-Self atau Teori Cermin Diri. Menurutnya di dalam individu terdapat tiga unsur: 1) bayangan mengenai bagaimana orang lain melihat kita; 2) bayangan mengenai pendapat orang lain mengenai diri kita; dan 3) rasa diri yang bersifat positif maupun negatif.
George Herbert Mead (1863-1931), salah satu tokoh sentra interaksionisme simbolik menggambarkan pembentukan diri” atau tahap sosialisasi dalam ilustrasi pertumbuhan anak, dimana terdapat tiga tahap pertumbuhan anak, yakni 1) tahap bermain (play stage); 2) tahap permainan (game stage); dan 3) tahap mengambil peran orang lain (taking role the other).
Manusia tidak bereaksi terhadap dunia sekitar secara langsung, mereka bereaksi terhadap makna yang mereka hubungkan dengan benda-benda dan kejadian-kejadian sekitar mereka, lampu lalu lintas, antrian pada loket karcis, peluit seorang polisi dan isyarat tangan. W.I. Thomas (1863-1947), mengungkapkan tentang definisi suatu situasi, yang mengutarakan bahwa kita hanya dapat bertindak tepat bila kita telah menetapkan sifat situasinya. Bila seorang laki-laki mendekat dan mengulurkan tangan kanannya, kita mengartikannya sebagai salam persahabatan, bila mendekat dengan tangan mengepal situasinya akan berlainan. Kegagalan merumuskan situasi perilaku secara benar dan bereaksi dengan tepat, dapat menimbulkan akibat-akibat yang kurang menyenangkan.
Para ahli dalam bidang perspektif interaksi modern, seperti Erving Goffman (1959) dan Herbert Blumer (1962) menekankan bahwa orang tidak menanggapi orang lain secara langsung, sebaliknya mereka menanggapi orang lain sesuai dengan “bagaimana mereka membayangkan orang itu.” Dalam perilaku manusia, “kenyataan” bukanlah sesuatu yang tampak. Kenyataan dibangun dalam alam pikiran orang-orang sewaktu mereka saling menilai dan menerka perasaan serta gerak hati satu sama lain. Apakah seseorang adalah teman atau musuh, atau seorang yang asing bukanlah karakteristik dari orang tersebut. Baik buruknya dia, diukur oleh pandangan tentang dia.
Perspektif interaksionis simbolis memusatkan perhatiannya pada arti-arti apa yang ditemukan orang pada perilaku orang lain, bagaimana arti ini diturunkan dan bagaimana orang lain menanggapinya. Para ahli perspektif interaksi telah banyak sekali memberikan sumbangan terhadap perkembangan kepribadian dan perilaku manusia. Akan tetapi, kurang membantu dalam studi terhadap kelompok-kelompok besar dan lembaga-lembaga sosial.
g. Teori Fenomenologi
Persoalan pokok yang hendak diterangkan oleh teori ini justru menyangkut persoalan pokok ilmu sosial sendiri, yakni bagaimana kehidupan bermasyarakat itu dapat terbentuk.
Alfred Schutz sebagai salah seorang tokoh teori ini bertolak dari pandangan Weber, berpendirian bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberikan arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti. Pemahaman secara subjektif terhadap sesuatu tindakan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses interaksi sosial. Baik bagi aktor yang memberikan arti terhadap tindakannya sendiri maupun bagi pihak lain yang akan menerjemahkan dan memahaminya serta yang akan bereaksi atau bertindak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh aktor.
Schutz mengkhususkan perhatiannya kepada satu bentuk dari subjektivitas yang disebutnya antar subjektivitas. Konsep ini menunjuk pada pemisahan keadaan subjektif dari kesadaran umum ke kesadaran khusus kelompok sosial yang sedang saling berintegrasi.
h. Etnometodologi
Etnometodologi adalah sebuah aliran sosiologi Amerika yang lahir tahun 1960-an dan dimotori oleh Harold Grafinkel (1917). Etnometodologi lebih memperhitungkan kenyataan bahwa kelompok sosial mampu memahami dan menganalisis dirinya sendiri (Coulon, 2008). Etnometodologi adalah sebuah analisis terhadap metode yang dipakai manusia untuk merealisasikan kegiatan sehari-harinya. Etnometodologi merupakan ilmu tentang etnometode, sebuah prosedur yang disebut Grafinkel sebagai “penalaran sosiologi praktik”.
Etnometodologi bergerak dengan konsep-konsep khasnya, seperti indeksikalitas, reflektivitas, akuntabilitas, subjektivitas, pengambilan data yang lebih terbatas pada manuskrip yang belum diterbitkan, catatan kuliah, atau catatan harian penelitian.
i. Teori Pertukaran Sosial
1) Teori Pertukaran
Tokoh utama teori ini adalah George C. Homans dan Peter M. Blau. Teori ini dibangun sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial. Homans mengakui menyerang paradigma fakta sosial secara langsung. Tetapi Homan mengakui bahwa fakta sosial berperan penting terhadap perubahan tingkah laku yang bersifat psikologi yang menentukan bagi munculnya fakta sosial baru berikutnya. Menurut Homan sebenarnya yang menjadi faktor utama dan mendasar adalah variabel yang bersifat psikologi.
Teori ini mendasarkan sistem deduksinya pada prinsip-prinsip psikologi yaitu: 1) Tindakan sosial dilihat equivalen dengan tindakan ekonomis; 2) Dalam rangka interaksi sosial, aktor mempertimbangkan juga keuntungan yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkannya (cost benefit ratio). Proposisi yang perlu diperhatikan adalah:
· Makin tinggi ganjaran (reward) yang diperoleh maka makin besar kemungkinan sesuatu tingkahlaku akan diulang
· Demikian sebaliknya. Makin tinggi biaya atau ancaman hukuman (punishment) yang akan diperoleh semakin kecil kemungkinan tingkah laku serupa akan diulang
· Adanya hubungan berantai antara berbagai stimulus dan antara berbagai tanggapan.
2) Teori Sosiologi Perilaku
Sosiologi Perilaku memusatkan perhatian pada hubungan antara sejarah reaksi lingkungan atau akibat dan sifat perilaku kini. Teori ini mengatakan bahwa akibat perilaku tertentu di masa lalu menentukan perilaku masa kini. Dengan demikian dapat diprediksi apakah aktor akan menghasilkan perilaku yang sama dalam situasi kini.
3) Teori Pilihan Rasional
Teori Pilihan Rasional memusatkan perhatian pada aktor. Aktor dipandang sebagai manusia yang mempunyai tujuan atau maksud yang akan melakukan usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Aktor pun dipandang mempunyai pilihan. Teori ini tak menghiraukan apa yang menjadi pilihan, yang penting adalah kenyataan bahwa tindakan digunakan untuk mencapai tujuan sesuai pilihan aktor.
Menurut pandangan teori ini, minimal ada dua hal yang dapat mempengaruhi pilihan atau bersifat memaksa terhadap tindakan yang dilakukan aktor. Pertama, keterbatasan sumber; dan kedua, paksaan lembaga sosial. Tokoh teori ini adalah Friedman dan Hechter.
j. Teori Feminisme
Kaum feminis menyatakan bahwa penjelasan sosiologi hanya mereproduksi ide bahwa gender bersifat alamiah dan bahwa wanita memenuhi peran sosial yang relevan. Feminisme pada hakikatnya adalah wanita yang menghendaki kesetaraan dalam hal akses terhadap pendidikan, pekerjaan, penghasilan, politik, dan kekuasaan. Kritik utama kaum feminis atas sosiologi dapat diringkas sebagai berikut:
a) Riset sosiologi selalu dikonsentrasikan para pria;
b) Riset ini kemudia digeneralisasikan kepada seluruh populasi;
c) Wilayah-wilayah yang menyangkut wanita, seperti reproduksi telah diabaikan;
d) Riset bebas-nilai sebenarnya berarti riset yang buta jenis kelamin, dan wanita ditampilkan dalam cara pandang yang tidak berimbang;
e) Jenis kelamin dan gender tidak dipandang sebagai variabel penting dalam menganalisis masyarakat, padahal sangat penting.
Secara historis, wanita selalu dianggap tidak sehebat pria. Baru dalam lima dasa warsa belakangan ini sajalah wanita secara aktual mencapai semacam pengakuan kesetaraan, meski masih terbatas. Kritik kaum feminis atas masyarakat didasarkan pada ide bahwa sebenarnya manusia dilahirkan dalam keadaan sama, dan cara masyarakat mengorganisasilah yang menimbulkan siskriminasi.
Secara aktual dalam bidang pendidikan ditemukan bahwa wanita yang diberi kesempatan yang sama dengan pria sebenarnya dapat berprestasi lebih baik dalam hampir semua mata pelajaran. Ini agak mengkhawatirkan bagi pria karena kesempatan kerja bagi mereka menjadi berkurang, sementara teknologi mutakhir kini makin menyisihkan kekuatan otot sebagai penggerak produksi ekonomi. Program yang dianjurkan feminisme untuk merekonstruksi sosiologi mencakup hal-hal berikut ini (Osborne, 1996: 122):
a) Menempatkan gender di pusat seluruh analisis, sejajar dengan kelas dan ras;
b) Mengkritik perspektif pria dalam seluruh teori sosiologi, yang berarti menganalisis sikap-sikap yang telah membentuk cara pandang para sosiolog;
c) Menganalisis hubungan antara wilayah publik dan domestik sebagai hal penting dalam memahami bagaimana masyarakat berfungsi;
d) Memeriksa dengan teliti seluruh teori sosiologi.
Teori Sosiologi Feminis
Teori ini berkembang dari teori feminis pada umumnya, sebuah cabang ilmu baru tentang wanita yang mencoba menyediakan sistem gagasan mengenai kehidupan manusia yang melukiskan wanita sebagai objek dan subjek, sebagai pelaku dan yang mengetahui. Pengaruh gerakan feminis kontemporer terhadap sosiologi telah mendorong sosiologi untuk memusatkan perhatian pada masalah hubungan jender dan kehidupan wanita. Banyak teori sosiologi kini yang membahas masalah ini.
Pertanyaan-pertanyaan feminis dapat diklasifikasikan menurut empat pertanyaan mendasar:
a) Dan bagaimana dengan perempuan?
b) Mengapa situasi perempuan seperti sekarang ini?
c) Bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial?
d) Bagaimana dengan perbedaan di antara perempuan?
Jawaban atas pertanyaan ini menghasilkan teori-teori feminis.
Tokoh-tokoh feminisme yang terkenal antara lain: Patricia Hill Collins (Teori Interseksionalitas), Janet Chafetz (Teori Konflik Analitik), Kathryn B. Ward (Teori Sistem Dunia), Margaret Fuller, Frances Willard, Jane Addams, Charlotte Perkins Gilman (Feminisme Kultural), Helene Cixous, Luce Irigaray (Analisis Fenomenologis dan Eksistensial), Jessie Bernard (Feminisme Liberal),
k. Strukturalisme
Setelah pergeseran Neo-Marxis dalam sosiologi, datanglah gelombang kedua teori strukturalis yang menulis ulang cara-cara ditanamkannya determinasi sosial dan agen sosial.
Strukturalisme dipelopori oleh perintis linguistik, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang mengawali dengan kajian tentang bahasa tetapi berakhir dengan kajian atas segala sesuatu sebagai struktur. Teori semiotika atau studi atas tanda-tanda dimulai dari aksioma terkenal bahwa bahasa adalah sistem yang terstruktur, kebudayaan kemudian diuji sebagai sistem terstruktur yang sama, dan selanjutnya masyarakat secara keseluruhan.
Pada akhirnya kita semua terjebak dalam bahasa dan kita memperoleh budaya melalui bahasa. Kita adalah makhluk yang berbicara. Oleh karena itu untuk memahami sebuah budaya, kita harus mengerti struktur yang berfungsi di dalamnya dan pola dasar yang membentuknya.
Tokoh strukturalis yang terkenal di antaranya adalah Roland Barthes yang menganalisis tentang tanda-tanda dalam budaya populer. Pentingnya media massa dalam menyebarkan pandangan ideologis tentang dunia didasarkan pada kemampuannya untuk membuat tanda, citra, penanda, bekerja dalam cara tertentu.
 sumber :
http://pensa-sb.info/teori-sosiologi/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar